Minggu, 27 Maret 2011

Permen [Gula Gula]

Cerita ini diriwayatkan oleh Arun Gandhi, cucu dari Mohandas K. Gandhi .......

"Ketika saya berumur enam tahun, kami diundang untuk mengunjungi kakek di sebuah ashram ia mendirikan di mana orang tinggal bersama dalam antikekerasan," kata Arun "Sebuah pasangan muda tinggal di sana dengan anak mereka 6 tahun.. Anak ini memiliki luar biasa gigi manis-kalau dia tidak mendapatkan permen ia akan mengambil sendok gula Para orangtua membawa anak itu ke dokter karena ia sakit dari gula Dokter mengatakan tidak ada gula lagi;.. tidak ada permen lagi untuk Anda dan tidak ada argumen. Orang tua masih makan coklat manis dan permen setiap hari dan anak itu akan mengambil permen ketika tidak ada yang melihat. "

Mengambil anak mereka untuk Gandhi putus asa, orang tua dari anak dengan gigi manis disuruh membawanya kembali dalam 15 hari. Mereka pergi, bertanya-tanya mengapa ia tidak dapat berbicara dengan anak mereka segera.

"Mereka pergi dan kembali dan kakek berbicara dengan anak itu kurang dari satu menit," kata Arun, "setelah waktu dia berjanji akan menyerah permen. Orangtuanya terperanjat. Mereka bertanya kakek apa mukjizat yang dilakukan. Dia berkata, 'Itu bukan mukjizat. Saya harus meminta dia untuk menyerah permen jadi aku katakan padanya bahwa saya telah menyerah permen dan aku tidak akan makan apa-apa sampai Anda menyerah permen-akan Anda menyerah permen 'anak itu terus sumpahnya dan saya belajar bahwa ketika orangtua peduli begitu? banyak, untuk membuat semacam pengorbanan, anak-anak tidak perlu memaksa. "

Jadi, ia datang kembali ke pepatah lama ... Praktek terlebih dahulu sebelum Anda memberitakan!

translate from the candy http://emotivation-stories.blogspot.com/

Rabu, 23 Maret 2011

Layang Layang [Layangan]

Mark dan Anthony dan kelas mereka dari sekolah semua dalam keadaan hari kegembiraan besar. Mereka tertawa dan mengobrol dan memanggil satu sama lain dalam cara yang jauh lebih bising dari biasanya. Mungkin ada hubungannya dengan fakta bahwa ini Aljabar tertentu membantu pelajaran atau soal cerita Matematika tidak terjadi di sekolah, tetapi keluar di udara terbuka, di lapangan besar - tidak ada dinding di sekitar mereka hari ini!

Pagi ini anak-anak semuanya telah dibawa keluar kota oleh guru muda, Philip. Dia adalah penggemar layang-layang dan akan menunjukkan kepada mereka bagaimana untuk terbang layang-layang. Mereka semua keluar di sebuah bukit yang jelas pohon, dan garis tidak ada listrik di atasnya, atau rumah, atau bangunan lainnya. Angin bertiup kaku. Ini adalah hari yang sempurna untuk terbang layang-layang! Mereka tidak ingin memikirkan masalah Matematika tetapi mereka hanya ingin memiliki beberapa luar menyenangkan.

'Lihat, anak-anak,' teriakan Philip. "Perhatikan, segera setelah Anda lepas landas layang-layang, mengeluarkan kabel, tetapi melakukannya perlahan-lahan."

Hampir semua orang suka menonton layangan diterbangkan dan itu adalah hobi yang menyerap anak-anak dan orang dewasa sama. Orang telah peregangan kertas atau kain di atas bingkai kayu selama lebih dari 4000 tahun. Layang-layang pertama kali diterbangkan di Cina, kemudian menyebar ke seluruh Pasifik. Mereka pertama kali dibawa ke Eropa di abad ke-15 oleh Inggris, Belanda dan pedagang Portugis yang kembali dari Timur.

"Layangan tidak selalu hanya mainan indah,''menjelaskan Philip. "Mereka juga memiliki penggunaan ilmiah. Misalnya, tahun 1752, negarawan penulis, Amerika dan ilmuwan, Benjamin Franklin, menggunakan layang-layang dilengkapi dengan logam pasak dan kabel dalam eksperimen untuk mengembangkan sebuah konduktor petir. Kemudian pada 1901, ilmuwan Italia , Marconi, digunakan layang-layang untuk meningkatkan radio udara ke langit sehingga ia bisa mengirim sinyal panjang gelombang radio pertama melintasi Atlantik, antara Cornwall, di Inggris, dan Newfoundland, di Kanada, 3400 km.
Translate from http://g8stories.blogspot.com/

Met Ultah Baby dija [ Khadijah]



  • Panjang Umur Yaaaaahhh.....


Minggu, 20 Maret 2011

Kata Bijak Cinta [2] : Cinta Harus Lulus TK SD SMP SMA

Kata Bijak Cinta [2] : Cinta Harus Lulus TK SD SMP SMA

cinta itu harus lulus
TK , SD , SMP , SMA

TK ( TULUS KASIH SAYANG )
SD ( SALING DEWASA )
......SMP ( SALING MENGERTI & PERCAYA )
SMA ( SALING MENERIMA APA ADANYA )

tanpa ke-4 ijazah tersebut maka tidak ada Cinta

Sabtu, 19 Maret 2011

Kata Bijak [1] : Hiduplah Pada Hari Itu Saja

Kata Bijak [1] : Hiduplah Pada Hari Itu Saja

Org yg merasa bahwa ia hanya akan hidup pd hari itu saja, ia pasti akan
berusaha meluruskan amalnya, mengendalikan ucapannya, memperelok
hatinya, rela dgn rezeki yg diterimanya, memelihara waktunya,
...mempergunakan setiap waktu dari kehidupannya, membahagiakan dirinya, dan
menghilangkan kesedihannya. sebap dia melupakan masa lalunya yg penuh
dgn segala kesedihan dan kedudukannya, dan mempersiapkan masa depan dgn
segala harapannya.

hidup adalah saat anda menjalani hari anda. Jadi Cobalah untuyk hidup
pada hari itu saja.

Rabu, 16 Maret 2011

KISAH POHON APEL

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan seorang anak laki-laki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buah-buahnya dan tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak laki-la...ki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak tersebut. Waktu terus berlalu dan anak laki-laki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-mainlah lagi denganku,” pinta pohon apel itu.

“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi, aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya”. jawab anak laki-laki itu.

Pohon apel itu menyahut, “Aduh, maaf aku pun tak punya uang, tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak laki-laki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak laki-laki itu tak pernah datang lagi. Pohon apel itu pun menjadi sedih.

Suatu hari anak laki-laki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.

“Aku tak punya waktu, karena harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” jawab anak laki-laki itu.

“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak laki-laki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak laki-laki itu senang Tapi anak laki-laki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak laki-laki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi denganku,” kata pohon apel.

“Aku sedih, aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” kata anak laki-laki itu.

“Aduh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak laki-laki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak laki-laki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemuian. “Maaf anakku, aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” kata pohon apel itu.

“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak laki-laki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel meneruskan.

“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak laki-laki itu.

“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang. Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.” kata anak laki-laki.

“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua sepertiku ini adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” Anak laki-laki itu pun berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

````````````````````````````````````````````````````````````````````````````

Apa yang bisa kita petik dari KISAH POHON APEL tersebut ? Pohon apel itu diibaratkan sebagai orang tua kita. Ketika kita masih kecil, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tapi orang tua kita tidak pernah marah dan malahan akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Kamu mungkin berpikir bahwa anak laki-laki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi mungkin seperti itu pulalah cara kita memperlakukan orang tua kita. Cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, bahwasanya kita mencintainya, dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Dikutip dari artikel motivasi. Searching di google.

Selasa, 15 Maret 2011

Berita Terkini Sekolah Swasta

Paijo adalah seorang pesuruh di sebuah SMA swasta yang cukup terkenal. Suatu siang, Paijo melihat kerumunan puluhan murid dan beberapa guru di teras ruangan kelas pelajaran Fisika. Dari suara ributnya, mungkin ada kejadian luar biasa di situ. Paijo semula acuh tak acuh, namun akhirnya ia datang mendekat juga karena salah satu guru yang juga wakil kepala sekolah memanggilnya.

Setelah diusut, ternyata ada seorang siswa yang sehabis pelajaran olah raga menendang bola yang seharusnya dia bawa ke gudang. Sialnya bola tadi mengenai kaca jendela nako sampai hancur berantakan.

Dasar sekolah swasta yang sudah terbiasa berdemokrasi, tidak heran kalau guru-guru di situ memberikan komentar atas kejadian tadi. Lagi pula ini berhubungan dengan kurikulum baru yang berbasis kompetensi (KBK) di mana para siswa diharapkan tidak hanya tahu teori tapi juga harus tahu keadaan nyata dalam situasi apapun. Berikut ini adalah dialog dari beberapa guru yang ada di situ.

Wakil Kepala Sekolah: “Bagaimana pendapat atau komentar bapak-bapak guru tentang kejadian tadi ?”

Guru Fisika: “Gerakan bola tadi merupakan contoh dari gerak balistik atau gerak peluru.”

Guru Kimia: “Massa kaca sebelum dan sesudah pecah sama.”

Guru Matematika: “Lintasan bola tadi pasti merupakan kurva melengkung parabola.”

Wakil Kepala Sekolah: “Bagus sekali komentarnya. Bagaimana menurut pak Sugih?”

Pak Sugih yang guru ekonomi menjawab: “Untuk mengganti kaca yang pecah perlu biaya Rp 100.000 pak.”

Wakil Kepala Sekolah: “Itu tidak masalah, kita bisa minta ke orang tua siswa yang menendang bola tadi. Bagaimana menurut Pak Paijo ?”

Paijo kaget setengah mati karena tidak menyangka kalau akan dimintai pendapat atau komentar. Tapi untuk menjaga gengsi, lagi pula dia pernah ikut nguping waktu guru-guru ditatar KBK, Paijo memberikan komentar menurut disiplin ilmunya.

Paijo: “Kalau ditinjau dari disiplin ilmu saya pak, pecahan kaca tadi… eh… anu… menambah pekerjaan saya tapi tidak menaikkan gaji saya pak!”

Wakil Kepala Sekolah: “Pintar juga pak Paijo, ada musibah malah digunakan kesempatan untuk minta naik gaji.”

Berita Terkini Sekolah Swasta

Senin, 14 Maret 2011

Cara ampuh hilangkan stress...

Cara ampuh hilangkan stress...
Ambil kayu
Ambil paku
Ambil palu
Buat bangku
...Duduk disitu

Bayangin aku
Ambil hp
Cari n0mer ku
Telefon aku ,,,

Hehehe

Jumat, 11 Maret 2011

Iri Tiada Henti

Assalamu 'alaikum...

Ada seorang pemecah batu yang melihat seorang kaya. Iri dengan kekayaan orang itu, tiba-tiba ia berubah menjadi orang kaya. Ketika ia sedang bepergian dengan keretanya, ia harus memberi jalan kepada seorang pejabat. Iri dengan status pejabat itu, tiba-tiba ia berubah menjadi seorang pejabat.

Ketika ia meneruskan perjalanannya, ia merasakan panas terik matahari. Iri dengan kehebatan matahari, tiba-tiba ia berubah menjadi matahari.

Ketika ia sedang bersinar terang, sebuah awan hitam menyelimutinya. Iri dengan selubung awan, tiba-tiba ia berubah menjadi awan.

Ketika ia sedang berarak di langit, angin menyapunya. Iri dengan kekuatan angin, tiba-tiba ia berubah menjadi angin.

Ketika ia sedang berhembus, ia tak kuasa menembus gunung. Iri dengan kegagahan gunung, tiba-tiba ia berubah menjadi gunung.

Ketika ia sedang bertengger di gunung, ia melihat ada orang yang memecahnya. Iri dengan orang itu, tiba-tiba ia terbangun dari lamunannya sebagai pemecah batu.

Ternyata itu semua hanya mimpi si pemecah batu.

***

Karena kita semua saling terkait dan saling tergantung, tidak ada yang betul-betul lebih tinggi atau lebih rendah. Kehidupan ini baik-baik saja kok... sampai Anda mulai membanding-bandingkan.

Kata Sang Guru: "Rasa berkecukupan adalah kekayaaan terbesar." Pengejaran keuntungan, ketenaran, pujian, dan kesenangan bersifat tiada akhir karena roda kehidupan terus berputar, silih berganti dengan kerugian, ketidaktenaran, celaan, dan penderitaan. Inilah delapan kondisi duniawi yang senantiasa mengombang-ambingkan kita sepanjang hidup.

Kebahagiaan terletak pada kemampuan untuk mengembangkan pikiran dengan seimbang, tidak melekat terhadap kondisi duniawi.

Boleh-boleh saja kita menjadi kaya dan terkenal, namun orang bijaksana akan hidup tanpa kemelekatan terhadap kondisi duniawi.

Salaam...

Arsip:
http://menggapairidho-nya.blogspot.com/2011/03/iri-tiada-henti.html

Rabu, 09 Maret 2011

Cerita Lucu Kakek dan Cucu

aku punya Cerita Lucu seseorang kakek dan cucunya.....!!!

Cucu : kek...saya....kalah berkelahi soalnya saya di keroyok...??
kakek : oohh...kakek` dulu di Kroyok 5 orang gak Lari
Cucu : emank,kakek berani...??
Kakek : begh.....2 orang kakek Hajar ampe babak belur.....
Cucu : lho....yg 3 orangnya kemana kek...??
Kakek : yang 3 orang nya ANTAR KAKEK KE rumah sakit......

Rabu, 02 Maret 2011

Asal Ibadah itu Haram???

Asal Ibadah haram. Itu benar adanya. Dan Qaidah tersebut ada di kitab Iilaamul-muwaqqi'in karangan Ibnul-qoyyim Aljawzy. Salah satu ulama besar yang menjadi panutan kaum salafi wahabi.

Tapi permasalahannya adalah kita juga mesti baca kelanjutan penjelasannya, Ibadah seperti apa yg di maksud dalam Qa'idah tersebut. Ialah ibadah maghdlah (murni), seperti shalat, zakat puasa ibadah haji dll. Itu jelas kita semua telah sepakati haram untuk menambah apalagi mengurangi.

Masalahnya bentuk ibadah (mendekatkan diri) itu kan tidak melulu maghdlah. Kita mengenal ada ibadah maghdhloh dan ada ibadah ghoiru maghdhloh.

Mereka biasanya mengaburkan permasalahan dengan asumsi mereka bahwa jika bid'ah hasanah itu ada maka dikhawatirkan orang-orang akan menambah rokaat sholat shubuh. Suatu kekhawatiran yang sebenarnya sangat baik niatannya tapi cenderung membabi buta dalam aplikasinya.

Sejak kapan para pecinta bid'ah hasanah yang senantiasa bersenandung sholawat dalam acara maulidan dan berdzikir dalam tahlilan menambah sholat shubuhnya menjadi lebih dari dua rokaat???

Apakah orang yang menganggap sesat tahlilan dan maulidan telah memposisikan ibadah-ibadah yang terdapat didalamnya sebagai ibadah maghdloh yang setara kedudukannya dengan sholat fardhu, zakat dan puasa???
jika jawabannya iya, maka silahkan saja tahlilan dan maulidan itu sesat bagi mereka, tapi tidak bagi orang-orang yang mengetahui bahwa ibadah-ibadah yang ada didalamnya adalah ibadah ghoiru maghdloh. Jangan memaksakan kehendak lantaran ketidak tahuan dunkz.

Penjelasan inilah yang senantiasa disembunyikan oleh kaum wahabi (atau dengan berhusnudzon mungkin mereka tidak tahu karena biasanya mereka hanya mengandalkan data jadi di dunia maya tanpa melihat tekstual kitab aslinya), lihatlah bagaimana mereka berani memotong penjelasan ulama untuk diarahkan ke arah penafsirannya untuk mengelabui publik di dunia maya, sangat jarang (bahkan saya belum pernah mendapati) mereka mendetailkan penjelasan akan kaidah ini jika sedang beradu hujjah. Terutama ketika menyerang amalan2 baik kelompok muslim lainnya diluar golongan mereka yang notabene meyakini keberadaan bid'ah hasanah, semisal tahlilan dan maulidan.

Seharusnya jika mereka ingin fair mensosialisasikan budaya "ilmu sebelum beramal" maka mereka harus jujur terhadap penjelasan mendetail terhadap kaidah ini sebelum mereka membid'ahkan suatu amalan yang mereka belum fahami dalilnya.

Sehingga sebenarnya mudah saja mematahkan hujjah kaum salafi wahabi jika mempermasalahkan amalan baik yang kita lakukan hanya semata-mata karena tidak dicontohkan Baginda Rasulullah saw, mereka akan pusing tujuh keliling lapangan golf jika kita bertanya balik kepada mereka apa dalil pelarangannya. Karena selain kaidah "asal ibadah adalah haram", dalam kaidah fiqh lainnya kita mengenal kaidah الترك لا يدل علي التحريم alias "segala sesuatu yang tidak dilakukan sama sekali tidak menunjukkan keharaman". Justru mengapa kaidah ini mereka tidak sosialisasikan???, entahlah daku bingung memikirkannya.

Padahal jika kita ingin berfastabiqul khoiroot (berlomba-lomba dalam kebaikan) seharusnya kita tidak sempit berfikir dengan membid'ahkan/menyesatkan suatu amalan hanya karena tidak dicontohkan nabi/ shahabat. Walhal Baginda dan para shahabat tidak pernah mencontohkan suatu pesantren/ madrasah ataupun pengajian mingguan. Lantas apakah kita yang mengaji di madrasah/pesantren dan kita yang biasanya mengaji seminggu sekali disaat libur bekerja telah berbuat kesesatan hanya karena nabi dan shahabat tidak pernah mengkhususkan kajian ta'limnya dihari-hari khusus semisal hari minggu????

Afalaa ta'qiluun???
wallahu a'lam bis showaab...

Gus Dur, Al-Quran, dan Pornografi

Syahdan, Khalifah Harun al-Rasyid marah besar pada sahibnya yang karib dan setia, yaitu Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa: tidak mau ruku’ dan sujud dalam salat. Lebih lagi, Harun al-Rasyid mendengar Abu Nawas berkata bahwa ia khalifah yang suka fitnah! Menurut pembantu-pembantu-nya, Abu Nawas telah layak dipancung karena melanggar- syariat Islam dan menyebar fitnah. Khalifah mulai terpancing. Tapi untung ada seorang pembantunya yang memberi saran, hendaknya Khalifah melakukan tabayun (konfirmasi) dulu pada Abu Nawas.



Abu Nawas pun digeret menghadap Khalifah. Kini, ia menjadi pesakitan. ”Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat tidak ruku’ dan sujud dalam salat?” tanya Khalifah dengan keras.

Abu Nawas menjawab dengan tenang, ”Benar, Saudaraku.”



Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, ”Benar kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun al-Rasyid, adalah seorang khalifah yang suka fitnah?”



Abu Nawas menjawab, ”Benar, Saudara-ku.”



Khalifah berteriak dengan suara menggelegar, ”Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syariat Islam dan menebarkan fitnah tentang khalifah!”



Abu Nawas tersenyum seraya berkata-, ”Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya kabar yang sampai padamu tidak lengkap, kata-kataku dipelintir, dijagal, seolah-olah aku berkata salah.”



Khalifah berkata dengan ketus, ”Apa maksudmu? Ja-ngan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya.”



Abu Nawas beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang, ”Saudaraku, aku memang berkata ruku’ dan sujud tidak perlu dalam salat, tapi dalam salat apa? Waktu itu aku menjelaskan tata cara salat jenazah yang memang tidak perlu ruku’ dan sujud.”



”Bagaimana soal aku yang suka fitnah?” tanya Khalifah.



Abu Nawas menjawab dengan senyuman, ”Kala itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 Surat Al-Anfal, yang berbunyi ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu. Sebagai seorang khalifah dan seorang ayah, kamu sangat menyukai kekayaan dan anak-anakmu, berarti kamu suka ’fitnah’ (ujian) itu.” Mendengar penjelasan Abu Nawas yang sekaligus kritikan, Khalifah Harun al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar.



Rupanya, kedekatan Abu Nawas dengan Harun alRa-syid menyulut iri dan dengki di antara pembantu-pembantunya. Abu Nawas memanggil Khalifah dengan ”ya akhi” (saudaraku). Hubungan di antara mereka bukan antara tuan dan hamba. Pembantu-pembantu khalifah yang hasud ingin memisahkan hubungan akrab tersebut de-ngan memutarbalikkan berita.



****



Kisah yang menimpa Gus Dur mirip cerita Abu Nawas. Tersiar desas-desus, Gus Dur mengatakan Al-Quran adalah kitab suci porno. Menurut kabar angin itu pula, pernyataan Gus Dur tersebut diucapkan sewaktu acara ”Kongkow Bareng Gus Dur” di Kantor Berita -Radio (KBR) 68H, Jakarta, yang mengudara saban Sabtu. Kebetulan saya salah seorang pembawa acara tersebut. Karena tuduhan itu, Gus Dur diteror oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam di Purwakarta (23 Mei 2006).



Seperti nasib Abu Nawas, pernyataan Gus Dur sengaja dipelintir dan dilepaskan dari konteksnya karena ada motif dan untuk- tujuan tertentu. Padahal, dalam acara kongko tersebut, berkali-kali Gus Dur yang selalu ceplas-ceplos dan lucu berkata- bahwa konsepsi porno itu ada dalam otak seseorang. Kita sering bilang, orang itu otaknya lagi ngeres atau lagi ”piktor” (pikir-an kotor). Pernyataan Gus Dur yang lengkap begini, ”Porno itu letaknya ada dalam persepsi seseorang. Kalau orang kepalanya ngeres, dia akan curiga bahwa Al-Quran itu kitab suci porno, karena ada ayat -tentang menyusui (Al-Baqarah: 233). Bagi yang ngeres-, menyusui berarti mengeluarkan dan me-tetek, dan ada juga roman-romanan antara Zulaikha dan Yusuf (QS Yusuf: 24).” Liciknya, mereka, yang pernah juga menyebarkan fitnah bahwa Gus Dur telah dibaptis, menyebarkan -bahwa Gus Dur telah berkata Al-Quran itu kitab suci porno.



Pemenggalan kata-kata tersebut sangatlah berbahaya. Kita bisa mengatakan Alquran mengecam orang yang salat ketika hanya mengutip ayat 4 dalam surat al-Ma’ûn, “maka celakalah orang-orang yang salat!” (fawaylul lil mushallîn). Padahal maksudnya orang yang melaksanakan salat tapi masih celaka adalah orang yang salat tapi lalai: ingin dilihat orang, dan enggan bersedekah—dijelaskan dalam tiga ayat sesudahnya.



Gus Dur memang tidak pernah sepi dari tuduhan. Dulu ia pernah dituduh ingin mengubah assalamualaikum menjadi selamat pagi, siang, sore, dan malam. Seperti Abu Nawas, Gus Dur dituduh ingin mengubah rukun salat, ketika menoleh ke kanan dan ke kiri ketika mengakhiri salat, bukan lagi assalamualaikum yang diucapkan, melainkan selamat pagi untuk salat subuh, selamat siang untuk salat zuhur, dan seterusnya. Padahal Gus Dur mengatakan boleh mengganti assalamualaikum dalam konteks sapaan (greeting), bukan dalam salat.



Untuk itulah, bagi yang masih berakal sehat, akan langsung bertabayun kepada Gus Dur, bukan langsung menuduh, menyebarkan fitnah, apalagi melakukan tindak kekerasan. Bukankah menurut Al-Quran hanya orang fasiklah yang tidak mau bertabayun? 





by Mohamad Guntur Romli

Tawassul Dengan Kubur Nabi Muhammad SAW

Imam Al-Darimy menyatakan dalam kitabnya Al-Sunan (pada bab Penghormatan Allah SWT kepada Nabi Muhammad setelah wafat): "Diceritakan dari Abu Nu'man, dari Sa'id Ibn Zaid, dari 'Amr lbn Malik Al-Bakari, dari Abu Al-Jauza' Aus Ibn Abdillah, ia berkata, "Pada suatu ketika, penduduk Madinah ditimpa kemarau panjang yang mencekik, sehingga mereka mengadu kepada Aisyah ra". Aisyah berkata: "Lihatlah kubur Nabi dan buatlah sebuah lubang yang tembus ke langit di atasnya, sehingga tidak ada atap antaranya dengan langit itu." Lantas ~ demikian menurut para perawi hadits — merekapun melakukan saran Aisyah ra, dan lak lama kemudian hujan lurun dengan lebat; sehingga rerumputan tumbuh dengan seketika, dan onta menjadi gemuk (bahkan sampai pecah-pecah lantaran kelewat gemuk). Sehingga tahun itu kemudian disebut sebagai 'Am Al-Fatq (tahun pecah-pecah).

(Sunan Darimy, jilid 1, halaman 43)

Inilah tawassul dengan kubur Nabi, yang semata-mata bukan dengan keadaannya sebagai kubur, tetapi kubur itu menyimpan jasad dari makhluk paling mulia di kolong jagad ini, seorang kekasih Allah.

Sehingga kuburan tersebut menjadi mulia lantaran menyimpan jasad tersebut, dan menjadi pantas disifatkan dengan sifat mulia.



Berkata Al-Hafidz Abu Bakar Al-Baihaqi: 'Telah bercerita kepada kami Abu Nash bin Qotadah, dan Abu Bakar Al-Farisi, ke¬duanya berkata, telah bercerita kepada kami Umar bin Mathar, telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Ali Al-Dzahili, telah bercerita kepada kami Yahya bin Yahya, telah bercerita kepada kami Abu Muawiyah dari Al-A'masy dari Abu Shalih dari Malik, katanya: "Pada zaman Umar bin Khattab, ummat ditimpa kemarau panjang, maka datanglah seorang pria ke kuburan Nabi Muhammad SAW seraya berkata: "Ya Rasulullah, mohonlah hujan kepada Allah bagi ummat mu karena mereka (hampir) hancur." Lantas orang tersebut didalangi Nabi SAW ketika tidur (mimpi). Dimana dalam mimpinya, Nabi bersabda: "Pergilah temui Umar, sampaikan salamku bahwa mereka akan diberi hujan."



Orang itu kemudian menghadap Umar, sehingga Umar pun berkata: "Ya Allah, mereka tidak menyampaikan keluhan kepada-Mu, kecuali apa yang aku tidak berdaya." (Isnad hadits ini shahih. Demikian dikemukakan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah, jilid I, halaman 91, pada bab berbagai peristiwa tahun 18 H.).

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan pula dengan sanad yang shahih dari riwayat Abu Shalih Al-Samman dari Malik Al-Dary, bendahara Ummar.



Ia bercerita bahwa pada masa pemerintahan Umar Ibn Khattab pernah terjadi kemarau panjang. Lantas seorang pria mendatang kuburan Nabi Muhammad. Ia berkata, "Ya Rasul Allah, mintakan hujan untuk ummatmu karena mereka sedang menderita kesulitan "



Nabi lantas mendatangi orang itu dalam mimpinya, dan Nabi SAW menyuruhnya menemui Umar. (Lihai kembali cerita liadili terdahulu). Saif meriwayatkan dalam kilab Al-Futuh bahwa orang itu yang bermimpi itu adalah salah seorang Sahabat bernama Bilal bin Harits Al Muzni. Dan menurut Ibnu Hajar, isnad Bilal shahih.

(Fath Al-Bari, halaman 415, jiliil II)





Tak seorangpun — dari para Imam yang meriwayatkan hadits itu dan ulama yang mengutipnya sesudah mereka -- yang menyatakan bahwa tawassul dengan kuburan Nabi adalah kufur dan sesat.



Juga tak seorangpun yang mencela matan hadits tersebut. Malah hadits itu, dinukil dan dipandang shahih oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani, seorang pakar hadits yang berilmu, utama, dan statusnya di kalangan ahli hadits tidak diragukan lagi.

Ibnu Katsir menyatakan bahwa Sya'ir ummat Islam ketika perang Yamamah yang sangat populer adalah: "Duhai Muhammad."



Dimana cerita selengkapnya adalah sebagai berikut: "Khalid Ibn Walid — pemimpin pasukan perang (dalam perang Yamamah) -- ketika berhasil melintasi suatu daerah pegunungan yang telah di¬kuasai oleh Musailamah (Sang Pembohong), berhasil pula membidik dan membunuh Musailamah.



Sehingga Khalid, lantas berdiri di antara dua baris pasukannya, memanggil-manggil Al-Barraz seraya berkata; "Aku anak Walid, mari kita kembali. Aku anak Ibn 'Amir dan Zaid, mari kita kembali." Di¬mana waktu itu, kemudian Khalid mendendangkan sebuah sya'ir kaum Muslimin yang sangat populer yakni; "Duhai Muhammad."

(Al'Bidayah wa Al-Nihayah, jilid 6, halaman 324)



[Disadur dari buku "Paham-Paham Yang Perlu Diluruskan" (Mafahim Yajib An Tushahhah), Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alwy Al-Maliky, halaman 179-181, Penerbit Fikahati Aneska, Cetakan Kedua 1996]